Skip to main content

The Huntress Chapter 4: Ambush


Chapter 4: Ambush

Di tengah-tengah suasana hening desa, Jill melangkah dengan pelan dan penuh siaga. Matanya dengan cepat melihat pemandangan yang membuat bulu kuduknya merinding.

Seperti desa-desa dan perkampungan lain pada umumnya, pemukiman di desa Zeraphim juga tertata dengan cara yang kurang lebih sama. Daerah desa biasanya dibatasi oleh barisan pagar pelindung palisade dari balok-balok kayu. Rumah-rumah dari kayu dan batu tersusun dalam kluster atau kelompok-kelompok kecil yang disekat oleh jalanan desa.  Kluster-kluster tersebut tersusun mengelilingi sebuah lapangan kecil di tengah desa.

Balai desa, sebuah bangunan yang lebih besar dan kokoh terletak di depan lapangan tersebut.  Tempat ini biasanya berfungsi sebagai tempat pertemuan warga dan tempat penyimpanan bahan makanan dan peralatan bersama.

Sebuah sumur komunal terletak di depan bangunan tersebut. Di samping kirinya terletak sebuah kuil dari batu dan granit untuk pemujaan para dewa. Kios-kios pedagang yang biasanya digunakan untuk pasar mingguan tersusun di pinggir lapangan.  

Sepintas, selain beberapa pintu dan jendela yang rusak, desa ini terlihat tidak jauh berbeda dari desa normal lainnya. Yang membedakan adalah banyaknya noda genangan darah yang sudah mengering di tanah dan jalan penghubung desa. 

“Jill, tampaknya seperti serangan bandit. Tapi...” 

“Terlalu rapi namun buas,” potong Jill singkat. “Mereka akan punya cukup waktu untuk mengirim sinyal darurat dan membuat pertahanan jika bandit datang. Setidaknya kerusakannya tidak akan seminim ini.”

“Yeah, dan bandit tidak akan membantai secara membabi buta. Mereka bisa menjual tawanan mereka sebagai budak,” sambung Zack.

“Yea. Dan mereka tidak akan repot-repot memindahkan jenazah korbannya,” Jawab Jill.

Ia melangkah maju menyusuri jalan setapak di antara rumah-rumah menuju balai desa. Seluruh bangunan tampak kosong tak berpenghuni, tak ada suara aktivitas apapun terdengar dari tempat ia berdiri.

“Zack, aku akan coba cek ke dalam balai desa ini. Bantu spot posisiku.”

“Roger,” jawab Zack singkat. Dengan lincah ia bergerak turun dari menara pengawas gerbang dan berlari menuju salah satu rumah tertinggi di pinggir lapangan tengah desa. Dalam hitungan detik ia telah selesai memanjat bangunan tersebut dan mengambil posisi siaga di atas atap.

“Hati-hati, Jill. Kau mau mundur dan tunggu back up?”

Sejenak Jill terdiam di depan celah pintu sambil berusaha menimbang situasinya. Matanya menatap tajam berusaha mengamati situasi dalam ruangan gelap di balik celah pintu kayu balai desa. 

“Serangan atau bencana apapun itu, penduduk desa terutama lansia dan anak-anak kemungkinan akan bersembunyi dan mencoba bertahan di dalam bangunan ini. Apabila ada yang masih hidup, aku mungkin bisa sempat memberikan pertolongan pertama,” kata Jill. “Sejauh ini tidak ada tanda-tanda apapun. Kemungkinan para penyerangnya sudah lama pergi. Aku akan coba lihat ke dalam. Bila tidak ada siapa-siapa kita bisa balik dan menunggu Sarge,” tambahnya.

“Oke,” jawab Zack singkat. Tangan kanannya menarik tiga batang anak panah dari tabung panah di pinggangnya. Dua anak panah dijepit bersama busur dan satu lagi terpasang longgar di tengah busurnya, siap untuk ditembakkan kapan saja.

“Vatra,” gumamnya. Tangan kanannya mengusap satu persatu mata anak panah dengan gerakan cepat, matanya untuk kesekian kalinya mengawasi bangunan-bangunan di sekeliling area tersebut.

Dari batu ruby di lehernya, Jill mendengar mantra yang dirapalkan Zack. Sihir api adalah salah satu sihir kegemaran Zack. Diperkuat dengan sihir itu, tiap tembakan anak panahnya bisa menghancurkan seekor Troll raksasa dengan mudah.

Dengan refleks ia mengangkat lengan kirinya sedikit lebih tinggi ke depan, perisai medan energi kebiruan di lengannya berpendar pelan. Kakinya mendorong daun pintu secara perlahan, diikuti suara kreot dari engselnya.

Seberkas sinar matahari masuk menerangi ruangan, bersamaan dengan bau amis tak sedap yang kuat menyerang indra penciuman Jill yang baru saja melangkah masuk.

Matanya dengan cepat memindai seluruh ruangan. Tiga buah meja kayu bundar dan beberapa kursi kayu tergeletak berhamburan  di sekeliling ruangan. Beberapa kantung kain, entah berisi cadangan makanan atau barang lain tergeletak berserakan di lantai bersama beberapa senjata sederhana dan peralatan bertani seperti pisau, tombak, sekop, garu dan tongkat pentungan.

Dan darah. Darah di mana-mana. Bau amis yang ia cium berasal dari situ. Di antara cipratan darah yang menempel di dinding dan lantai kayu ruangan tersebut, terlihat banyak goresan-goresan dalam seperti cakaran hewan buas saat menandai daerah teritorial kekuasaan mereka dengan mencakar-cakar pohon tertentu.

Di tengah-tengah kekalutannya, otak Jill berputar dengan cepat, matanya melirik sebuah pintu dua daun yang setengah terbuka di dinding tengah ruangan yang menuju ke ruangan belakang, kemungkinan gudang penyimpanan balai desa. Minimnya cahaya membuatnya sulit melihat isi ruangan tersebut. Garis-garis darah membuat jejak tersambung di lantai, seolah-olah para mangsa yang terluka diseret ke dalam ruangan.

Seluruh bangunan dibalut keheningan yang mencekam, dan bunyi yang terdengar olehnya hanyalah dentuman detak denyut jantungnya yang semakin cepat, diiringi dengan instingnya yang menjerit membunyikan alarm bahaya.

Sambil melangkah mundur, perisai di tangan kirinya mengacung ke depan, tangan kanan Jill menyabetkan tongkat sihirnya ke depan sambil berbisik, “Vatra!”

Seberkas garis api melintas dengan cepat menumbuk salah satu daun pintu kayu tersebut. Bang!!  Pintu itu terdorong melesak ke dalam, bagian tengahnya hancur dan gosong. Lintasan semburat cahaya dari sihir api Jill menerangi ruangan di balik pintu itu. Walaupun hanya sekejap, apa yang dilihat Jill cukup untuk membuat darahnya serasa membeku. Langkah mundurnya terhenti, otaknya terlalu sibuk berusaha memproses pemandangan mengerikan yang ia lihat di dalam ruangan gudang penyimpanan tersebut.

"JILL!! KELUAR! SEKARANG!!" teriakan Zack terdengar nyaring lewat kanal komunikasi dari kalung ruby yang ia kenakan, bergema dan memecahkan keheningan dalam ruangan tersebut.

 Jill memutar pinggangnya ke kanan dengan sigap, dan berlari ke arah pintu masuk dengan lengan kirinya tetap teracung ke arah ruangan gelap tersebut. Sebentuk gumpalan kabut asap keabuan diikuti kilatan berkas cahaya keperakan mengerjap dengan tiba-tiba. Kabut asap tersebut tembus melewati pintu kayu yang sudah hampir copot dihantam sihir Jill sebelumnya, dan bergerak dengan cepat menerjang perisai medan energi Jill.

BANG!  Sesosok tubuh ramping berwarna abu kegelapan terlempar menghantam perabotan kayu dalam ruangan. Sepasang mata merah menyala menatap tajam ke arah tubuh Jill yang terlempar keluar ruangan. Dalam sekejap seberkas cahaya kembali berkilat, diikuti dengan kembali menghilangnya sosok tubuh tersebut.

"AETHERWOLF!!! Frack!!! Mereka di dalam sana, Zack. Anak-anak juga!!” Dia berteriak penuh kemarahan. Tidak heran mereka tak melihat satupun penduduk, baik hidup atau mati sejak masuk gerbang desa. Apa yang dilihat oleh Jill dalam ruangan gudang tersebut adalah tumpukan tubuh tak bernyawa dalam kondisi yang mengenaskan.

Sambil berlari dengan cepat ke tengah jalan, Jill menarik tangan kanannya ke arah belakang, tongkat sihirnya menembakkan tiga kilatan cahaya merah secara beruntun ke arah bangunan balai desa tersebut. Diikuti suara dengungan samar, tiga kilatan cahaya tersebut menghantam bayangan kabut yang menerjang diikuti dengan suara kesakitan seekor serigala.

“Kembali ke kuda! Aku akan cover,” Zack setengah berteriak, tangannya dengan cepat menarik busur panah dan melepaskan tembakannya, yang disusul dengan cepat oleh dua panah berikutnya ke arah dua bangunan berbeda lainnya yang terletak berhadapan dengan balai desa. Suara dentuman keras terdengar disusul derak suara bangunan yang runtuh. Suara lolongan marah terdengar dari tumpukan puing-puing, kemungkinan aetherwolf lainnya yang bersembunyi untuk menyergap kakaknya dari arah berlawanan.

Aetherwolf, atau serigala Aether, adalah monster hybrid atau blasteran dengan klasifikasi bahaya tingkat A yang diperkirakan sudah punah beberapa tahun yang lalu. Mereka adalah monster yang diperkuat dengan skill atau kemampuan khusus melalui ritual kuno bangsa Demon. Kemampuan spesialnya adalah bertransformasi menjadi kabut aether dan menghilang dari sensor visual manusia biasa, serta menembus dinding atau benda padat lainnya saat berbentuk kabut. Oleh para ahli sihir kemampuan ini disebut Blinking, dan hanya skill tertentu seperti Magic Eye dan alat bantu sensor magis yang mampu mendeteksi mereka saat blinking.

Saat berjaga di atas atap tadi, insting Zack terus-terusan memberi alarm peringatan yang membuatnya gelisah. Mengkhawatirkan kakaknya, iapun mengaktifkan kemampuan deteksi sihir yang dimilikinya. Alangkah terkejutnya Zack saat mendeteksi bayangan kabut aether yang bersembunyi di beberapa bangunan desa, salah satunya di dalam balai desa yang diselidiki Jill, dan dua ekor lainnya di dua rumah yang berdekatan.

Sendirian, seekor Aetherwolf dapat ditangani oleh seorang pemburu atau petualang yang terlatih, terutama yang memiliki kemampuan serangan sihir atau senjata magis. Masalahnya, monster ini biasa muncul dalam packs atau kawanan. Satu kawanan bisa terdiri dari 5 sampai 15 ekor Aetherwolf, sehingga rating bahaya monster ini bisa mencapai SS alias Sangat Berbahaya. Bahkan saat Perang Besar, catatan militer kerajaan mencatat penampakan beberapa packs yang bergabung hingga mencapai puluhan serigala yang mampu menghancurkan beberapa kota perbatasan yang dijaga oleh pasukan terlatih dalam waktu hanya beberapa hari.

Hal itulah yang membuat pihak Aliansi, setelah muncul sebagai pemenang dalam Perang Besar, berusaha habis-habisan untuk membasmi monster hybrid, terutama Aetherwolf .

“Jill, tidak ada gerakan di belakangmu. Sepertinya aku melumpuhkan dua ekor lainnya. Satu ekor lagi baru saja blink in sekitar 5 baris rumah di belakangmu. Jalur keluar aman. Mundur sekarang!”

“Roger!” jawab Jill sambil berlari ke arah gerbang desa. “Zack, kau juga harus keluar sekarang. Resikonya terlalu besar. Kita belum tahu jumlah mereka.”

“Jangan khawatir, Sis. Aku bisa kabur lewat atap-atap rumah. Kau keluar dulu, aku bisa melumpuhkan mereka dengan panah-panahku.”

Woong!  

Percakapan mereka terputus oleh selarik cahaya biru berpendar berbentuk elips setinggi orang dewasa jangkung di depan pagar desa. Dari dalam lingkaran tersebut keluar seorang pria berpakaian seragam Warden, yang diikuti oleh dua orang lagi di belakangnya.

“Sarge, Liam, Nona Kepik,” komentar Zack yang mengawasi portal pindah ruang tersebut.

"Sudah kubilang berhenti panggil aku dengan nama itu, Belalang!” Salah satu dari warden yang berdiri di belakang, seorang wanita dengan tinggi sedang, menarik sebuah crossbow dari punggungnya. Rambutnya ikalnya coklat kemerahan dan dipotong pendek seperti pria. Jaket seragam wardennya tampak sesak, menunjukkan otot-otot tubuhnya yang padat berisi.

“Zack, berapa banyak?” Sarge, warden yang berdiri paling depan adalah seorang elf berambut cepak berwarna putih keperakan. Tidak seperti kebanyakan elf pada umumnya, tubuhnya kecil dan ramping seperti remaja berusia 15 tahunan. Namun wajahnya yang kalem tanpa ekspresi, dan sorot matanya birunya terlihat dingin dan jauh lebih dewasa dari remaja usia belasan tahun. Sambil melangkah maju, tangannya menyentuh sepasang gelang pelindung logam di pergelangan tangan kanan dan kirinya.

“Sejauh ini lima ekor. Dua di rumah yang kutembak runtuh tadi, Jill melumpuhkan satunya di balai desa. Dua ekor lagi baru saja blink out sekitar 5 bangunan di belakang balai desa. Hati-hati!”

“Oke. Anak-anak, formasi segi tiga. Molly,  sayap kiri, Liam, kanan. Kita jemput mereka berdua dan segera keluar dari sini,” perintahnya dengan tenang tapi tegas. Sarge kemudian melangkah maju di di depan kedua warden lainnya, dua buah lingkaran cahaya berwarna biru berpendar di depan kedua tangannya.

“Roger,” jawab Molly dan Liam singkat. Molly dengan crossbownya maju mengambil sisi kiri di belakang Sarge, sedangkan Liam mengambil sisi kanan. Kedua tangannya menggenggam sebuah tongkat oak sepanjang satu setengah meteran.  Sebuah kristal berwarna biru sebesar telur ayam terpasang di ujung kepala tongkat yang berbentuk setengah lingkaran.

“Dua lagi baru saja blinking di... Oh shoot. Delapan, sembilan... Sarge...” Suara Zack terputus oleh tiga buah dentuman beruntun yang terdengar secara tiba-tiba, disusul suara bangunan ambruk dan lolongan serigala.

“Sarge! Zack butuh bantuan... Mereka mengepungnya! Zack aku ke sana sekarang!” Teriakan Jill terdengar  lewat circlet komunikasi mereka, disusul dengan kilatan cahaya dan rentetan dentuman menggelegar.



Comments

Popular posts from this blog

 Chapter 1: The Encounter The sky is darkening, the wind is breezing, and Jimmy…Jimmy is running frantically through the woods. Fleeing, or call it pulling a tactical retreat. From a big ass boar-like monster.  To call it a boar is an insult to the creature. It has an enormous‌ ‌snout, gigantic head, 3 eyes on it, a menacing saber-like pair of tusks which if it were up to Jimmy would be aptly named Brutal and Violence, and a huge almost 2 meter length of torso covered in bristling dark stripe brownish thick furs. The said boar is currently chasing behind the poor boy, roughly 15 meters behind him, and gaining.  “Oh shit oh shit oh shi…” Jimmy grumbles between gasps. For a 14 years old, he is considered quite athletic among his peers, yet to outrun a boar, not to mention a gigantic one is not a feat easily accomplished. Jimmy knows that glaring truth, the boar-like monster apparently knows that, too. Hence why it doesn’t seem too rushed to finish his hunt. To an onlooker, ...

The Huntress Chapter 3: The Wardens

Chapter 3: The Wardens Di sebuah hamparan padang rumput terbuka, dua penunggang kuda dengan jubah berwarna coklat berpacu di atas selintas jalan tanah kecoklatan yang membelah hamparan kehijauan tersebut. Dengan awan debu yang membumbung di belakang mereka, kedua kuda dan penunggangnya bergerak cepat dan dalam waktu singkat semakin mendekat ke sebuah perkampungan sekitar 300 meter di depan mereka. Zachary Sylvar, salah satu penunggang kuda tersebut, adalah seorang remaja pria keturunan bangsa half elf. Rambut panjangnya berwarna coklat keemasan dengan dua kepangan kecil rapi yang melingkar dan mengikat rambut panjang di belakang kepalanya. Selingkar circlet perak berhiaskan sebuah batu rubi terletak di atas keningnya. Bentuk wajahnya sedikit tirus dengan garis rahang yang tajam serta sepasang mata besar dan daun telinga lancip sebagaimana bangsa elf pada umumnya. Dengan wajah seperti anak remaja berusia delapan belasan dan jaket seragam berburu warna hijau berornamen gari...

The Huntress - Chapter 1: Prologue

Chapter 1 : Prologue Sofie mengendap-endap dengan sangat hati-hati, matanya dengan konsentrasi penuh mengawasi setiap ranting dan semak yang ia lalui, serta setiap langkah yang ia ambil. Pikirannya terus mengingat setiap pesan dari pelatihnya beberapa bulan yang lalu. “Hati-hati dengan setiap ranting atau daun kering di tanah,” kata Jeff , dalam sesi latihan tersebut. “Kau tidak akan pernah menyangka betapa ributnya suara tiap daun kering yang terinjak saat mengintai mangsamu”. Atau terkadang Jeff akan berkata, “Selalu perhatikan arah angin! Jangan biarkan semua usahamu sia-sia hanya karena buruanmu mencium bau tengikmu”. Walaupun mengesalkan, karena Sofie yakin ia tidak berbau, atau paling tidak badannya tidak berbau setengik perkiraan Jeff, Sofie mengerti maksudnya. Kebanyakan hewan liar sangat sensitif, terutama pada indra penciuman mereka. Secara refleks Sofie mengendus lengan kirinya. Beberapa hari ini ia memang agak sibuk dengan berbagai pekerjaan rumahnya, dan ia...