Skip to main content

The Huntress - Chapter 1: Prologue


Chapter 1 : Prologue

Sofie mengendap-endap dengan sangat hati-hati, matanya dengan konsentrasi penuh mengawasi setiap ranting dan semak yang ia lalui, serta setiap langkah yang ia ambil. Pikirannya terus mengingat setiap pesan dari pelatihnya beberapa bulan yang lalu.

“Hati-hati dengan setiap ranting atau daun kering di tanah,” kata Jeff , dalam sesi latihan tersebut. “Kau tidak akan pernah menyangka betapa ributnya suara tiap daun kering yang terinjak saat mengintai mangsamu”. Atau terkadang Jeff akan berkata, “Selalu perhatikan arah angin! Jangan biarkan semua usahamu sia-sia hanya karena buruanmu mencium bau tengikmu”.

Walaupun mengesalkan, karena Sofie yakin ia tidak berbau, atau paling tidak badannya tidak berbau setengik perkiraan Jeff, Sofie mengerti maksudnya. Kebanyakan hewan liar sangat sensitif, terutama pada indra penciuman mereka. Secara refleks Sofie mengendus lengan kirinya. Beberapa hari ini ia memang agak sibuk dengan berbagai pekerjaan rumahnya, dan ia masih mengenakan kemeja coklat pudarnya yang telah ia pakai sejak beberapa hari yang lalu. 

Bukan karena ia malas mencuci, tetapi karena ia hanya memiliki beberapa potong pakaian, dan terlalu sering mencuci akan membuat kain cepat aus. Bila mereka mendapat donasi pakaian atau sedikit uang dari Jeff, Sofie selalu memastikan agar kebutuhan Rei terpenuhi terlebih dahulu.  Rei adiknya sering mengomeli Sofie tentang hal ini. Tapi menurut Sofie, kondisi mereka memang seperti itu. Ia tak masalah untuk berhemat sebisa mungkin, dan jarang mandi dan jarang mencuci baju adalah cara Sofie untuk berhemat. 

“Mungkin setelah yang satu ini, aku bisa mandi sepuasnya. Kalau aku bisa membawa pulang rusa ini, harusnya aku bisa punya cukup uang bahkan untuk beli sabun mandi di kios Revik. Aku dan Rei akan cukup wangi sampai-sampai Jeff dan Tony akan pangling.” Sambil tersenyum, dengan setengah melamun Sofie merogoh saku celana kirinya. Secubit bulu halus yang ia curi dari Tom, kucing piaraan Pak Jansen tetangga mereka (yang ia bayar dengan cakaran kecil di lengan kanannya), ia tebarkan di udara. Bulu-bulu tersebut tidak terbang ke depan, pertanda angin tidak bertiup ke arah buruannya. 

Dengan langkah perlahan, Sofie kembali melangkah maju. Lima langkah kemudian, ia berhenti tepat di belakang sebuah pohon tua yang berukuran selingkar tangan manusia, cukup untuk menyembunyikan tubuhnya dari pandangan mangsa di hadapannya.  Sekitar dua puluh meter dari pohon tersebut, seekor rusa jantan muda sedang asyik minum dari anak sungai di hadapannya. Dengan perlahan, lengan kiri Sofie bergerak mengambil dan menyiapkan anak panah yang ia bawa untuk mulai bersiap membidik. 

Sofie telah mengikuti jejak rusa ini dari dua jam yang lalu, tak jauh dari tempat ia memasang jerat kelincinya kemarin di pinggir hutan Wyldwood. Ia merasa beruntung menemukan jejak rusa tersebut, karena selama ini Sofie hanya berkesempatan mengandalkan jerat untuk  menangkap hewan-hewan kecil seperti kelinci, burung dan tupai. Saking asyiknya ia mengintai rusa tersebut sehingga tanpa sadar ia telah masuk lumayan jauh ke dalam hutan, daerah yang sebelum ini belum pernah ia masuki. 

Walaupun Jeff hanya mengijinkan berburu di pinggir hutan, namun Sofie yakin hasil buruannya kali ini bisa menjadi bukti untuk Jeff dan yang lain bahwa ia sudah jauh lebih dari siap untuk menjadi pemburu sungguhan, yang bisa masuk ke hutan manapun dan sedalam apapun. Bahkan bila ia berhasil membawa pulang rusa ini, mungkin Jeff , Tony dan Rei akan setuju bahwa ia siap menjadi seorang anggota guild resmi, pikir Sofie setengah menghayal. Ia juga telah memastikan untuk tak lupa meninggalkan tanda-tanda jejak saat mengikuti rusa tersebut, sehingga ia yakin tak akan tersesat untuk perjalanan pulang nanti. 

“Fokus, Sofie,” gumamnya pelan. Ia memfokuskan pandangannya ke rusa tersebut, tangan kanannya perlahan namun pasti menarik tali busur dan anak panah yang telah terpasang. Ia telah menghabiskan berbulan-bulan latihan bersama Jeff untuk ini. Tatapannya terpusat ke titik vital rusa yang terletak di pertemuan antara bahu dan perut si rusa, tempat di mana jantung dan paru-parunya tersembunyi. Sofie menghabiskan ekstra dua puluh menit untuk mengambil rute memutar ke arah kanan sasarannya, agar ia bisa membidik dari sisi samping tubuh si rusa. 

“Setiap orang bisa dengan mudah menembak ke tubuh sasarannya,” kata Jeff dalam sesi latihan mereka, “tapi pemburu sungguhan akan selalu memastikan agar tembakannya bisa membunuh dengan cepat agar target mereka tidak menderita terlalu lama, atau kesakitan lebih dari yang diperlukan. Hormati buruanmu, karena kita berburu untuk hidup, bukan untuk kesenangan, seperti para kaum bangsawan”. Kata-kata Jeff yang sedikit menggerutu di akhir pesannya tersebut terngiang dalam benaknya.

“Yep,” kata Sofie dalam hati. Matanya mengawasi tubuh rusa yang masih asik minum tersebut. “Maafkan aku rusa, aku berburu untuk bertahan hidup. Aku, Rei dan yang lain.” 

“Dan untuk membeli sabun mandi agar Jeff berhenti mengataiku bau tengik” , tambah Sofie dalam hati, secara tak sadar kepalanya bergerak menunduk mengendus lengan kirinya untuk kesekian kalinya, seolah-olah untuk memastikan keberadaan bau tengik tersebut.

*Crack!!!* Sebuah bunyi keras menggema di tengah hutan, disusul dengan suara anak panah yang meluncur, *Whoosh!!* 

Sebuah lembing pendek sepanjang kurang lebih satu setengah meter menancap di pohon tempat Sofie bersembunyi, tepat di posisi kepalanya beberapa detik yang lalu. Lembing tersebut menancap hanya beberapa sentimeter dari telinga kanannya sekarang, dengan ujung satunya masih bergetar. Tak disangka kebiasaan Jeff mengolok-olok bau badannya menyelamatkan nasib kepala Sofie hari ini.

*Pyak* Suara anak panah yang jatuh ke dalam sungai, disusul dengan si rusa muda dengan cepat berlari menjauh dari lokasi tersebut. Sofie yang terkaget karena serangan lembing tersebut telah dengan tak sengaja melepaskan tembakannya ke arah buruannya dengan ngawur. Dengan marah ia membalikkan badannya untuk melihat sang pengganggu yang telah mensabotase buruannya. Rasa kaget dan marah tersebut dengan cepat tergantikan dengan rasa takut.

“Goblin,” desis Sofie. Sekitar sepuluh meter di hadapannya berdiri seekor goblin, makhluk kurus kecil setinggi satu setengahan meter, berkulit abu kehijauan, setengah telanjang dengan hanya kulit dan cawat yang tampak kotor dan jorok menutupi setengah badannya.  Bila berdiri tegak, goblin tersebut hanya setinggi dagu Sofie. 

Wajah goblin tersebut tampak sangat khas. Bola matanya merah, hidungnya panjang namun tampak bengkok, entah karena terantuk batu saat jatuh atau ditinju temannya, dan mulutnya tersenyum menyeringai sambil menatap Sofie. Terlihat gigi-gigi tajam di mulutnya, dan liur yang menetes di pinggir mulut si goblin menyiratkan bahwa Sofie mungkin akan menjadi bahan makan malam yang pas bagi si goblin. Singkat kata, walaupun ia hanya melihat sekilas dalam waktu singkat, Sofie bisa menyimpulkan bahwa si goblin adalah makhluk sebenarnya yang pantas dipanggil bau tengik, dan juga jelek.

Saking jeleknya, Sofie yakin ia dan Rei dan Tony akan tertawa-tawa mengolok-olok wajah jelek si goblin, bila saja saat ini ia tidak sedang berdiri di hadapannya, dengan tangan kanan yang menggenggam sebilah pedang pendek. Pedang pendek tersebut berwarna coklat kemerahan, entah karena karat, darah yang mengering, atau keduanya. 

Dengan pikirannya berkecamuk antara takut dan bingung mengapa hutan Wylwood yang selama ini merupakan area berburu yang cukup aman bagi para pemburu tiba-tiba dikunjungi oleh makhluk jelek dan tengik ini, Sofie dengan sedikit kalut dan gelagapan berusaha mengambil anak panah berikutnya. Namun rencana tersebut segera ia batalkan karena si goblin sambil berteriak nyaring telah berlari cepat menyerbu ke hadapannya. 

“Whoosh”, pedang pendek si goblin menyabet hanya beberapa sentimeter di atas kepala Sofie yang dengan cepat berjongkok menghindari serangan tersebut, kedua tangannya menjatuhkan busur dan anak panah dan dengan cepat menahan berat tubuhnya agar tak terguling ke belakang.  Karena perbedaan tinggi badan mereka, walau dalam posisi berjongkok pun puncak kepala Sofie hanya selamat beberapa sentimeter dari sabetan tersebut, dan beberapa helai rambutnya jatuh melayang di hadapan wajahnya. Dalam jarak yang sedekat ini, aroma bau yang kuat dan tak sedap menyambar hidung Sofie, mengkonfirmasi dugaannya tentang bau tengik si goblin.

Antara takut dan gugup, Sofie dengan cepat berdiri kembali sambil mengangkat kaki kanannya dan menginjakkan telapak kaki kanan tersebut ke perut si goblin, diikuti dengan hentakan dan dorongan kuat ke depan. Serangan balasan ini tampaknya tak disangka oleh si goblin, karena tubuh kecilnya melengkung di bagian perut, sebelum terlempar jauh ke belakang diikuti dengan suara “oomph” yang cukup nyaring. 

Walaupun masih gadis remaja berumur 15 tahun dan seringkali kurang makan, namun tubuh Sofie yang bertahun-tahun berlatih bersama Jeff cukup terbentuk baik. Tenaga tendangannya dan tubuhnya yang relatif lebih besar dari si goblin terbukti sangat efektif. Si goblin terguling beberapa kali di tanah sambil memegangi perutnya yang ditendang tadi. Berusaha mencari senjata, Sofie melirik batang lembing yang masih tertancap di pohon tua di belakangnya. Dengan sigap ia meraih badan lembing tersebut dan berusaha mencabutnya.
Saat Sofie masih berkutat berusaha mencabut lembing tersebut, si goblin sambil terengah-engah berdiri kembali dan menatap Sofie dengan penuh kemarahan. Melihat Sofie yang masih berusaha mencabut lembing dari pohon tersebut, si makhluk jelek dan tengik tersebut kembali menerjang Sofie untuk menamatkannya. 

“Thwack” tepat saat ia hampir mencapai buruannya, dada si goblin tertumbuk ujung lembing yang berhasil dicabut oleh Sofie. Tubuh si goblin membungkuk menahan sakit, dan saat itulah Sofie memutar lembing dan menghantam sisi kiri wajah si goblin dengan ujung lembing satunya. 

Suara tamparan keras terdengar saat ujung lembing tersebut mendarat telak di pipi sang goblin. Saat ia masih terhuyung-huyung menahan sakit dan pusing, Sofie merangsek maju dengan ujung tajam lembing terarah ke leher si goblin.

“Zleb” suara lembing yang menembus leher si goblin, disusul dengan erangan sekaratnya dan suara darah yang muncrat. Dengan tangan yang gemetaran, Sofie menggenggam erat batang lembing dengan kedua tangannya, matanya menatap si goblin, yang membalas pandangannya dengan tatapan penuh kemarahan dan rasa tak percaya, atau tak rela. 

“Hrkk, hrkkk,” suara si goblin yang terbatuk darah sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Tubuh abu kehijauan tersebut kemudian merosot jatuh di tanah, tepat di hadapan kaki Sofie, dengan sebatang lembing masih menancap di lehernya.

Comments

Popular posts from this blog

 Chapter 1: The Encounter The sky is darkening, the wind is breezing, and Jimmy…Jimmy is running frantically through the woods. Fleeing, or call it pulling a tactical retreat. From a big ass boar-like monster.  To call it a boar is an insult to the creature. It has an enormous‌ ‌snout, gigantic head, 3 eyes on it, a menacing saber-like pair of tusks which if it were up to Jimmy would be aptly named Brutal and Violence, and a huge almost 2 meter length of torso covered in bristling dark stripe brownish thick furs. The said boar is currently chasing behind the poor boy, roughly 15 meters behind him, and gaining.  “Oh shit oh shit oh shi…” Jimmy grumbles between gasps. For a 14 years old, he is considered quite athletic among his peers, yet to outrun a boar, not to mention a gigantic one is not a feat easily accomplished. Jimmy knows that glaring truth, the boar-like monster apparently knows that, too. Hence why it doesn’t seem too rushed to finish his hunt. To an onlooker, ...

The Huntress Chapter 3: The Wardens

Chapter 3: The Wardens Di sebuah hamparan padang rumput terbuka, dua penunggang kuda dengan jubah berwarna coklat berpacu di atas selintas jalan tanah kecoklatan yang membelah hamparan kehijauan tersebut. Dengan awan debu yang membumbung di belakang mereka, kedua kuda dan penunggangnya bergerak cepat dan dalam waktu singkat semakin mendekat ke sebuah perkampungan sekitar 300 meter di depan mereka. Zachary Sylvar, salah satu penunggang kuda tersebut, adalah seorang remaja pria keturunan bangsa half elf. Rambut panjangnya berwarna coklat keemasan dengan dua kepangan kecil rapi yang melingkar dan mengikat rambut panjang di belakang kepalanya. Selingkar circlet perak berhiaskan sebuah batu rubi terletak di atas keningnya. Bentuk wajahnya sedikit tirus dengan garis rahang yang tajam serta sepasang mata besar dan daun telinga lancip sebagaimana bangsa elf pada umumnya. Dengan wajah seperti anak remaja berusia delapan belasan dan jaket seragam berburu warna hijau berornamen gari...