Pada suatu ketika, terdapat sebuah desa yang terletak di pinggir sebuah hutan. Desa itu bernama desa Willow. Desa Willow adalah desa yang tidak terlalu besar, hanya berisi beberapa puluh keluarga.
Dalam desa tersebut, hidup seorang ahli pembuat robot bernama Profesor
Gavin. Walaupun tidak diketahui apakah ia memang benar-benar memiliki gelar profesor,
namun para penduduk desa senang memanggilnya profesor karena kepandaian dan
keahliannya.
Kepandaian Profesor Gavin terbukti dari begitu banyaknya robot
canggih yang ia ciptakan. Robot-robot tersebut sudah sangat banyak membantu
kehidupan rakyat desa. Sebut saja misalnya, sebuah robot bernama Jig Saw, yang
bisa berjalan masuk ke dalam hutan, memotong sebatang pohon besar dengan
gergaji listriknya, dan kemudian menarik batang pohon itu kembali ke dalam
desa. Dan hebatnya, robot itu juga bisa melakukan tarian kecil saat selesai
mengerjakan tugasnya!
Atau robot lain bernama Plant Zombie, yaitu sebuah robot yang
berbentuk seperti zombie berwarna hijau, namun punya hobi menanam dan merawat
sayuran. Saat selesai diciptakan, hampir seluruh penduduk desa memesan robot
tersebut. Sekarang, seluruh rakyat desa bisa santai pergi memancing atau
mengerjakan hal lain yang mengasyikkan karena robot Plant Zombie mereka akan
memastikan cukup sayuran untuk konsumsi mereka sehari-hari.
Singkat kata, robot ciptaan Profesor Gavin bisa ditemukan di mana
saja di hampir setiap rumah penduduk. Dari robot penanam sayur, robot televisi,
hingga robot kucing berbulu tiruan bernama Tom yang bisa membantu mengusir
tikus rumah dan mendengkur saat dielus, dan yang terpenting tidak suka mencuri
ikan goreng di meja makan.
Pada suatu hari, nyonya Gilbert, yaitu salah satu nenek tertua di
desa, datang berkunjung ke bengkel robot Profesor Gavin. Karena usianya, kaki
nyonya Gilbert sering sakit sehingga ia harus memakai kursi roda kemana-mana.
“Hi, nyonya Gilbert, apa yang bisa kubantu?” sapa Profesor Gavin
ramah.
“Kau tahu, Prof, untuk orang setua diriku, aku susah mengerjakan
segala sesuatu bila hidup sendirian. Aku butuh seorang asisten rumah tangga
yang bisa memasak, mencuci dan membantu mengurus diriku. “
“Aha, aku tahu. Kau butuh sebuah robot asisten rumah tangga,” kata
Profesor Gavin. Lalu lanjutnya lagi, “Tenang saja, nyonya Gilbert, akan
kubuatkan sebuah robot asisten rumah tangga yang paling sempurna untukmu!”
*****
Beberapa hari kemudian, Profesor Gavin terlihat berkunjung ke rumah
nyonya Gilbert dengan sebuah robot berjalan di belakangnya. Robot tersebut
sekilas terlihat mirip seorang pria dewasa. Dua tangan, dua kaki, dua buah mata
besar dari sepasang lampu kuning dan mulut yang tersenyum ramah. Bedanya,
hampir seluruh permukaan badannya terbuat dari logam keabuan.
Para penduduk desa dan tetangga nyonya Gilbert yang penasaran ikut
keluar rumah dan menonton si robot yang dengan sopan melambai dan menyapa para
warga.
“Selamat pagi, Nyonya Gilbert. Ini adalah robot asisten rumah
tangga sempurna buatanku. Namanya Gorgo. Seperti namanya, dia adalah robot
buatanku yang paling sempurna. Dia bisa mengerjakan semuanya. Aku yakin mulai
hari ini dia akan membantu membuat hidupmu lebih mudah dan menyenangkan.”
“Terima kasih banyak, Prof. Aku tahu kau tidak akan pernah
mengecewakan,” jawab nyonya Gilbert senang.
“Kau boleh mencoba memberinya tugas, Nyonya,” saran profesor
Gavin. Dirinya tak sabar memperlihatkan kehebatan robot ciptaannya. Apalagi
dengan disaksikan oleh para warga desa saat ini.
“Oh, baiklah,” kata nyonya Gilbert, “Gorgo, bisakah kau
membuatkanku secangkir teh?”
“Baik, nyonya. Secangkir teh akan segera dihidangkan,” jawab Gorgo
dengan sopan. Dirinya dengan cepat masuk ke dapur nyonya Gilbert dan mulai
memanaskan air.
Tak lama kemudian, robot Gorgo kembali dengan secangkir teh panas
yang ia sajikan kepada si nyonya rumah.
Tapi saat nyonya Gilbert hendak meminum tehnya....
“Aah..!!!” Disusul suara gelas jatuh. Prang!!
“Tehnya terlalu panas! Aku bahkan kesulitan memegang cangkirnya,”
kata nyonya Gilbert sambil mengusap jari-jarinya yang terbakar.
Profesor Gavin melotot tak percaya ke arah robot ciptaanya. Robot
paling sempurna, bualnya, akan tetapi ia telah lupa memasang termometer pada si
robot, yang membuatnya gagal mengukur suhu!
Alangkah malunya profesor Gavin saat ini. Ia segera meminta maaf
pada nyonya Gilbert dan pamit pulang bersama robot Gorgo yang tak sesempurnya
bayangannya.
Sesampainya di bengkelnya, profesor Gavin yang amat malu dan
kecewa atas kesalahannya sendiri marah-marah pada Gorgo, robot ciptaannya.
“Kau benar-benar membuatku malu! Robot sempurna, tapi mengukur
suhu saja tak bisa!” Lalu tambahnya lagi, “Enyah kau dari hadapanku, robot
gagal!” kata profesor Gavin kasar. Ia kemudian berbalik dan mengunci pintu
bengkel, sibuk untuk memulai membuat robot baru, yang kali ini akan ia buat benar-benar
sempurna!
Bagaimana perasaan Gorgo? Tentu ia sangat sedih. Di hari pertama ia
bekerja, bahkan di tugas pertamanya, ia telah gagal. Dan itu semua di luar
kuasanya! Bukan salahnya tercipta tanpa alat pengukur suhu, kan? Bukan salahnya
bila ia diciptakan dengan label robot sempurna, betul?
Robot Gorgo bingung, ia kini tanpa majikan. Penduduk desa lainnya
pun pasti tak berani mengambilnya sebagai asisten rumah tangga. Ya, karena ia
sekarang adalah Gorgo, si robot tak sempurna. Dan lagi, siapa yang berani?
Profesor Gavin pasti tak senang karena menurutnya Gorgo adalah robot yang
gagal. Tidak ada warga desa yang berani mengambil resiko membuat profesor Gavin
marah.
Dengan langkah sedih, Gorgo pun berbalik dari pintu bengkel Profesor
dan mulai berjalan lurus. Tanpa disadarinya, iapun keluar meninggalkan batas desa
Willow dan mulai memasuki hutan yang berbatasan dengan desa asalnya.
*****
Beberapa hari kemudian, terlihat profesor Gavin keluar dari
bengkelnya. Ia berjalan dengan bangga menuju rumah nyonya Gilbert, dengan
diikuti sebuah robot di belakangnya.
Sama seperti Gorgo, robot ini terlihat seperti pria dewasa.
Bedanya, robot ini terlihat lebih tampan dan berkelas. Ia memakai jas setelan
hitam dan dasi kupu-kupu seperti pelayan restoran mahalan, tubuh logamnya
mengkilat tanpa noda dan gaya jalannya pun sangat gagah dan berkelas, tidak seperti
robot kebanyakan.
Diikuti oleh pandangan kagum dan penasaran warga desa, profesor
Gavin tiba di depan rumah nyonya Gilbert bersama robotnya.
“Nyonya Gilbert. Ini adalah Jordan, robot yang benar-benar
sempurna untuk menjadi asisten rumah tangga. Kali ini, aku yakin ia pasti bisa
membantu membuat hidupmu lebih mudah, termasuk membuat teh dengan suhu yang
pas, karena kali ini aku tak lupa memasang thermometer kualitas tinggi!” kata profesor
Gavin dengan bangga.
nyonya Gilbert pun sangat senang menerima Jordan. Kali ini, robot
sempurna ini berhasil membuat teh yang suhunya pas dan aman untuk nyonya
Gilbert. Maka sejak hari itu Jordan, si robot yang benar-benar sempurna tinggal
di rumah nyonya Gilbert menjadi asisten rumah tangganya.
Bagaimana dengan nasib Gorgo saat ini?
Gorgo si robot gagal saat ini tengah sibuk, memecahkan beberapa
butir kenari. Ya! Kenari. Di samping kaki kirinya berderet sebaris tupai dalam
antrian, masing-masing membawa sebutir kenari.
Sejak masuk hutan dalam kesedihannya, Gorgo bertemu dengan
beberapa hewan hutan. Hewan-hewan yang baik itu memutuskan untuk menghibur si
robot dengan cara memberinya pekerjaan untuk membantu mereka.
Saat ini, Gorgo bertugas membantu para tupai memecahkan kenari
untuk makan siang mereka. Kemarin, ia membantu para berang-berang membangun
bendungan di sungai. Dan besok, ia bertugas membantu mengawasi anak-anak ibu
rubah yang harus pergi berburu.
Tentu saja, para hewan tersebut sebenarnya bisa mengerjakan semua
tugas itu sendiri, tetapi mereka sengaja meminta tolong Gorgo untuk
menghiburnya agar tidak terus bersedih.
Di tengah-tengah kesibukannya memecahkan kenari, tiba-tiba...
“Hei! Asap apa itu?” Teriak salah satu tupai, tangan mungilnya
menunjuk ke arah langit. Tampak dari kejauhan, asap gelap keabuan membumbung
tinggi di atas langit desa Willow.
“Itu sepertinya asap kebakaran,” jawab salah satu ekor tupai.
“Ada rumah yang terbakar di desa,” kata seekor burung yang baru
saja hinggap di atas ranting pohon di dekat mereka. “Gorgo, kau pasti tahu,
rumah yang terbakar itu berwarna biru, dengan pintu bercat merah dan sebuah
cerobong asap besar di atapnya.”
“Itu rumah profesor Gavin!” jawab Gorgo. “Aku harus pergi ke sana.
Profesor mungkin dalam bahaya!” Ia bergegas berlari menuju desa.
Di desa Willow, para warga yang berkerumun mencoba memadamkan
rumah sekaligus bengkel profesor Gavin yang sedang terbakar hebat.
“Profesor masih di dalam!” lapor salah satu warga desa, yang
rumahnya di dekat situ. “Ia mungkin tak bisa keluar, entah terjebak api atau
pingsan menghirup asap.”
“Dengan api sehebat itu, kita tak mungkin bisa masuk ke dalam
untuk membantunya,” kata salah satu tetangga lainnya. “Terlalu berbahaya.”
“Berbahaya bagi manusia biasa, tapi tidak untuk robot!” Kata nyonya
Gilbert nyaring. Ia telah tiba di dekat lokasi kebakaran di atas kursi rodanya,
robot sempurna Jordan membantu mendorong kursi roda tersebut.
“Jordan, robotku, akan menyelamatkan Profesor.”
Tangannya menunjuk ke bengkel profesor Gavin, nyonya Gilbert berseru,
“Jordan, masuk ke dalam dan selamatkan Profesor sebelum terlambat!”
“Baik, Nyonya,” jawab robot Jordan dengan tegas. Dengan gagah
berani, robot Jordan berlari menerjang pintu merah rumah profesor Gavin yang
sedang terbakar. Di tengah-tengah suara derak bangunan yang terbakar, tubuh
atletisnya menerobos masuk ke tengah-tengah kobaran api...Dan... Lari keluar
lagi sambil melolong nyaring.
“PANASS!!! PANASS!!!” Robot Jordan berlari dan berguling-guling di
tanah di hadapan para penduduk desa. Jas hitamnya yang rapi tampak kucel dan
hangus terbakar di sana-sini.
Astaga, ternyata, saking sempurnanya, robot Jordan juga sensitif
terhadap kobaran api! Setelah disiram beberapa ember air oleh warga, ia kini
terduduk lemas di halaman, dalam keadaan compang camping dan mengenaskan.
“Minggir! Beri jalan!” sesosok tubuh keabuan terlihat berlari
menerobos kerumunan menuju kebakaran. Dalam waktu singkat, ia menerjang masuk
ke dalam bangunan bengkel yang terbakar. Beberapa detik kemudian, sosok
tersebut keluar dari kobaran api dengan memanggul sesosok tubuh yang terbungkus
selimut tebal.
Orang dalam selimut tersebut adalah profesor Gavin, yang tampak
pingsan, mungkin karena menghirup terlalu banyak asap. Sedangkan penyelamatnya,
tidak lain adalah..Gorgo! Si robot tak sempurna. Para penduduk yang berkumpul
segera menyambut dan memberikan pertolongan pertama kepada profesor Gavin.
“Kau tak apa-apa?” tanya nyonya Gilbert kepada Gorgo yang berdiri
di samping profesor Gavin.
“Aku baik-baik saja,” jawabnya singkat. Tangannya masih sibuk
menepuk-nepuk abu yang menempel di tubuh metaliknya. Tampak bagian-bagian yang
gosong kehitaman, tetapi jelas ia baik-baik saja dan tak terlalu masalah dengan
kobaran api yang ia terjang tadi.
“Untunglah Prof tidak memasang thermometer di tubuhku,” tambah
Gorgo sambil tersenyum senang. “Aku tidak takut api karena aku tidak merasa
sakit sama sekali terkena panas api,” katanya.
“Uhuk..Uhuk...” Profesor Gavin yang sudah sadar saat itu terbatuk
sambil menatap Gorgo. Sambil tersenyum malu, iapun berkata, “Maafkan aku Gorgo.
Aku mengusirmu dan menyebutmu robot gagal,” matanya melirik robot Jordan, yang
sedang terduduk lesu di samping kerumunan warga.
Sejak kejadian hari itu, penduduk desa Willow, dan terutama profesor
Gavin, belajar bahwa tidak ada hal yang bisa benar-benar sempurna, dan, segala
sesuatu pasti ada manfaat dan kegunaannya bila digunakan dengan tepat.
Kehidupan penduduk desapun kembali berjalan seperti biasa. profesor
Gavin kembali membuat dan menciptakan berbagai robot. nyonya Gilbert bersantai-santai
nonton tivi sambil minum teh buatan robot Jordan, yang sudah mendapat setelan
jas hitam baru.
Dan Gorgo? Gorgo kadang membantu profesor Gavin membuat robot,
kadang ia membantu warga desa mengerjakan tugas-tugas mereka. Kadang ia masuk
hutan, bermain bersama para tupai, rubah, berang-berang dan sahabat-sahabat hutan lainnya.
End.
Comments
Post a Comment