Skip to main content

The Huntress - Chapter 2: The Loot


Chapter 2: The Loot

Bau amis darah yang cukup menyengat terasa mengotori udara hutan Wyldwood yang biasanya bersih dan menyegarkan. Hanya dalam beberapa menit, segala hiruk pikuk perkelahian hidup mati antara Sofie dan goblin tadi telah lewat, digantikan suasana hening dan sepi, yang dihiasi oleh bunyi nafas Sofie yang masih tersengal-sengal, dan dentuman keras jantungnya yang masih dipacu kencang oleh adrenalin yang tersisa.

Sebagian wajah dan pakaian Sofie terciprat darah si goblin dalam perkelahian tersebut. Antara bau amis darah goblin dan ketegangan yang tersisa, serta kenyataan bahwa ia baru saja berhasil bertahan hidup bertarung melawan seekor goblin... Goblin sungguhan!!  Seluruh hal tadi membuat Sofie merasa mual sampai-sampai ia hampir memuntahkan sarapannya tadi pagi.  

Goblin adalah makhluk jahat dan licik yang biasa berburu secara berkelompok. Mereka akan jarang sekali berani menghadapi manusia satu lawan satu kecuali bila yakin bisa memenangkan perkelahian tersebut.

Kalimat ini terngiang dalam benak Sofie yang kini terduduk lemas di atas rerumputan. Saat ia masih kecil, di malam hari di samping perapian yang hangat dan terang, ayahnya sering bercerita tentang misi dan petualangannya, termasuk tentang makhluk-makhluk yang ia dan timnya harus hadapi dalam setiap petualangan seru tersebut.

Goblin adalah salah satu monster yang paling sering ia dan timnya harus hadapi dalam misi-misi tersebut. Makhluk kecil hijau tersebut hidup berkelompok dan suka berpindah-pindah membuat sarang di berbagai daerah dengan sumber makanan yang cukup untuk mereka bertahan hidup dan beranak pinak. Bila dibiarkan, populasi mereka akan terus bertambah hingga sumber makanan mereka habis. Dan saat itu mereka akan kembali berpindah ke daerah baru, untuk menguasai dan menghabiskan makanan di daerah tersebut. Singkatnya, goblin adalah hama.

Sendirian, seekor goblin bukan masalah bagi kebanyakan petualang. Tapi bahkan ayah Sofie yang merupakan salah satu petualang terhebat di masanya bila tak terpaksa tidak akan bersedia bila disuruh menghadapi sekawanan goblin sendirian.

Semua ingatan tersebut berkelebat dengan cepat saat Sofie masih terduduk di dekat bangkai si goblin. “Yeah, seekor goblin berburu sendirian adalah hal yang aneh. Aku harus cepat pergi dari sini dan memberitahu Jeff dan warga desa lainnya. Bisa jadi kawan-kawan goblin ini akan tiba-tiba muncul seperti tadi. Itu bakal jadi masalah besar buatku,” pikir Sofie.

Tapi sebelum ia pergi, Sofie memutuskan untuk mengecek hal apa saja yang bisa dimanfaatkan dari goblin yang sudah tak bernyawa tersebut.

Yang pertama, tentu saja, adalah pedang pendek yang dibawa si goblin tadi. Dengan penuh antisipasi, Sofie memungut pedang tersebut dan memeriksanya dengan cepat.

Bilah pedang tersebut tampaknya terbuat dari besi, dengan sisi tajam di kedua sisinya. Warna coklat kemerahan di bilah pedang tersebut berasal dari karat dan sisa sedikit darah yang mengering. Sofie tak mau menduga-duga asal darah tersebut. Dengan sedikit usaha dan batu asahan, pedang tersebut harusnya bisa kembali ke kondisi prima.

Panjang bilah pedang tersebut hanya sekitar 50 - 60 cm atau selengan orang dewasa. Pangkal pedang tersebut selebar tiga jari manusia, dan di ujungnya bilah pedang tersebut meruncing dengan sedikit lengkungan membentuk ujung pedang yang ideal untuk menusuk ataupun menebas.

Gagangnya terbuat dari kayu dan kawat tembaga, bentuk pegangannya cukup pas dan nyaman dalam genggaman. Sofie mencoba menebaskan pedang tersebut ke depan. Swish!  Ayunan cepatnya berhasil memotong beberapa bilah rumput di depannya. “Upgrade,” kata Sofie dalam hati.

Sejujurnya, Sofie tak merasa ia akan banyak membutuhkan pedang seperti ini. Ia bukan seorang petualang, yang khusus memburu dan menghadapi monster-monster berbahaya dalam misi mereka.

Sebagai pemburu, sebagian besar buruannya saat ini adalah hewan-hewan kecil yang ditangkap dengan jerat, dan untuk hewan yang sedikit lebih besar dan lincah ia bisa menembak mereka dengan panah. Walaupun disebut pedang pendek, namun dibandingkan pisau berburu yang diberikan oleh Jeff, yang kebanyakan dibutuhkan untuk membuat jerat dan menguliti hasil buruannya, pedang ini terlalu panjang dan mengganggu untuk dibawa dalam perburuan, terutama tanpa sarung pedang yang sesuai. Dalam situasi di mana kecepatan dan kelincahan gerak diutamakan, membawa-bawa benda tajam sebesar itu tanpa sarung pengaman hanya akan memberi resiko melukai dirinya sendiri.

Mungkin dia bisa menjual pedang ini untuk harga yang lumayan, pikir Sofie. Sambil sibuk menilai-nilai berapa keping koin tembaga yang mungkin bisa ia dapatkan bila menjual pedang tersebut, mata Sofie sibuk menjelajahi tubuh si goblin dan barang-barang bawaannya.

Dengan cepat tatapan matanya jatuh pada sebuah kantung kulit yang terikat di ikat pinggang si goblin. Ia segera meraih dan memeriksa isi kantung kulit tersebut. Sebuah cincin, kemungkinan dari tembaga, berhiaskan batu mengkilap berwarna merah, mungkin rubi, dan beberapa koin tembaga. Wajah Sofie tersenyum cerah. Bila benar-benar rubi, dia akan mendapatkan hasil buruan yang lumayan hari ini. Terlebih dengan koin dan pedang pendek tadi.

Goblin tak butuh koin dan perhiasan, tapi beberapa goblin suka meniru gaya manusia. Kemungkinan besar kantung kulit ini, atau bahkan juga pedang pendek yang ia gunakan, dulunya adalah milik seorang petualang malang yang menjadi korban goblin ini.

Berikutnya Sofie menarik pakaian kulit yang dikenakan oleh si goblin. Walaupun ia benci meraih benda ini, yang kelihatan sangat jorok dan jelas-jelas berbau tajam, tapi kulit yang dikenakan si goblin cukup lebar dan kemungkinan besar bisa diolah oleh Tony menjadi berbagai hal yang bermanfaat. Tentunya setelah dicuci dengan amat sangat bersih untuk menghilangkan baunya. Sofie teringat kembali dengan rencananya membeli sabun mandi di kios Revik.

“Sabun mandi dan sabun cuci,” kata Sofie mengingatkan dalam hati. Ia kemudian menggulung pedang pendek tadi dengan kulit bekas pakaian tersebut dan kemudian mengikat bundelan tersebut dengan ikat pinggang si goblin yang terbuat dari kain rombeng berwarna merah pucat.

Sejauh ini hasil berburunya lumayan menghasilkan. Rei dan yang lain akan sangat terkejut bila mendengar ia bertemu dengan goblin, apalagi bila tahu ia berhasil membunuh goblin ini dalam sebuah perkelahian. Mungkin mereka dan orang desa bahkan akan menduga ia hanya membual.

Sambil melucuti barang-barang lain yang ada di tubuh si goblin (sepotong kalung dari tali kulit bermata sebuah gigi taring besar yang menguning, pelindung lengan dari kulit yang kemungkinan juga dulunya milik si petualang malang), Sofie sibuk menimbang-nimbang apakah mungkin ia perlu membawa bukti konkrit hasil buruannya kali ini, mungkin sepotong kuping goblin? Atau bahkan kepalanya?

“Yeck...Terlalu menjijikkan.”  Putus Sofie sambil mengernyit sendiri membayangkan bila ia harus memotong kepala si goblin. Mungkin sarapan paginya yang tak seberapa benar-benar akan termuntahkan keluar bila ia melakukan hal itu.

Sofie mengecek sekali lagi bangkai goblin yang sekarang sudah telanjang polos. Si goblin tak mengenakan alas kaki apapun, sehingga tak ada sepatu atau alas kaki yang bisa ia ambil. Dalam hati Sofie menyayangkan hal ini. Kemungkinan besar si petualang malang jatuh di tangan sergapan sekelompok goblin, sehingga peralatannya terpisah-pisah jatuh ke tangan goblin yang berbeda. Mungkin bila ia bertemu dengan goblin lainnya, Sofie tak akan merasa kaget melihat goblin tersebut mengenakan sepatu manusia.

Sambil membereskan bundelan kulit dan pedang, Sofie memungut dan merapikan busur dan anak panah bawaannya. Sambil berdiri ia mengingat-ingat arah keluar dari hutan yang ia lewati tadi pagi. Matanya kembali jatuh ke bangkai si goblin, hasil buruan besar pertamanya. 

“Hvala na hrani”, bisiknya lirih. Sebuah mantra tradisi kuno para pemburu yang kurang lebih berarti ‘terima kasih untuk makanan yang diberikan’. Jeff sering mengatakan bahwa para pemburu tidak akan lupa untuk berterima kasih atas hasil buruannya. Walaupun terdengar aneh, karena mereka bukan dengan suka rela memberikan daging ataupun bagian tubuh mereka untuk dijadikan makanan, tetapi pemburu yang baik akan selalu ingat untuk bersyukur atas setiap hasil buruan mereka, apapun hasilnya. 

“Setiap makhluk hidup akan selalu berusaha berjuang untuk bertahan hidup, baik hewan, manusia ataupun makhluk hidup lainnya”, kata Jeff dalam salah satu malam panjang saat mereka bersantap malam bersama. “Para pemburu sungguhan berburu untuk bertahan hidup, dengan kata lain setiap mangsa buruan yang mereka bunuh memberikan keberlangsungan hidup itu kepada pemburunya.”

Oleh karena itu, kata Jeff, setiap buruan yang mereka bunuh harus diberikan penghormatan yang sesuai. Paling tidak dengan ucapan terima kasih atas hasil yang mereka dapatkan dari mangsa buruan tersebut. Idealnya, dengan memanfaatkan seluruh bagian tubuh mereka semaksimal mungkin sehingga tidak ada bagian yang tersia-siakan. 

Sepintas Sophie kembali membayangkan bila Tony, adik Jeff, akan tertarik mengolah tendon, taring ataupun kulit goblin tersebut. Mengingat kegemaran dan keahliannya mengolah berbagai bagian tubuh hewan hasil buruan Jeff dan Sofie selama ini, mungkin saja dia akan tertarik. Tapi saat memikirkan bagaimana ia harus memotong bagian-bagian tubuh goblin tersebut untuk membawanya pulang, Sofie segera membatalkan ide tersebut.

"Yarrrecchh!!!"

Suara gemerisik semak-semak dan sebuah jeritan melengking yang tiba-tiba membuat Sofie hampir terlompat terkejut. Teriakan tersebut berasal dari seekor goblin yang baru saja keluar dari semak-semak sekitar dua puluh meter di arah kanannya. Mata merah goblin tersebut menatap penuh kebencian pada si gadis muda yang tampak tak berdaya, namun nyata-nyata bertanggung jawab atas terbunuhnya rekan goblinnya yang saat ini terbaring berlumuran darah di atas rumput hutan.
Mulut si goblin yang baru datang tersebut masih terbuka garang, menunjukkan gigi-gigi tajamnya. Tangan kanannya memegang sebatang tombak atau lembing kayu, sedangkan telunjuk kirinya menunjuk ke arah Sofie. Beberapa detik kemudian, dua ekor goblin lagi keluar dari semak-semak yang sama, yang satu sambil menarik sebatang kapak dari ikat pinggangnya, dan yang satu lagi membawa sebuah pentungan kayu dan pisau berburu kecil.

Mereka berdua memandangi Sofie beberapa saat, sebelum kemudian mulai ikut meneriakkan lengkingan yang memekakkan telinga sambil berlari merangsek ke arah si gadis pemburu. 

Dengan sigap, Sofie mengangkat peralatan dan hasil jarahannya sambil membalikkan badan dan berlari secepat mungkin ke arah Callahan, desa tempat tinggalnya, diikuti ketiga goblin marah yang berteriak teriak melengking mengejar di belakangnya.





Comments

Popular posts from this blog

 Chapter 1: The Encounter The sky is darkening, the wind is breezing, and Jimmy…Jimmy is running frantically through the woods. Fleeing, or call it pulling a tactical retreat. From a big ass boar-like monster.  To call it a boar is an insult to the creature. It has an enormous‌ ‌snout, gigantic head, 3 eyes on it, a menacing saber-like pair of tusks which if it were up to Jimmy would be aptly named Brutal and Violence, and a huge almost 2 meter length of torso covered in bristling dark stripe brownish thick furs. The said boar is currently chasing behind the poor boy, roughly 15 meters behind him, and gaining.  “Oh shit oh shit oh shi…” Jimmy grumbles between gasps. For a 14 years old, he is considered quite athletic among his peers, yet to outrun a boar, not to mention a gigantic one is not a feat easily accomplished. Jimmy knows that glaring truth, the boar-like monster apparently knows that, too. Hence why it doesn’t seem too rushed to finish his hunt. To an onlooker, ...

The Huntress Chapter 3: The Wardens

Chapter 3: The Wardens Di sebuah hamparan padang rumput terbuka, dua penunggang kuda dengan jubah berwarna coklat berpacu di atas selintas jalan tanah kecoklatan yang membelah hamparan kehijauan tersebut. Dengan awan debu yang membumbung di belakang mereka, kedua kuda dan penunggangnya bergerak cepat dan dalam waktu singkat semakin mendekat ke sebuah perkampungan sekitar 300 meter di depan mereka. Zachary Sylvar, salah satu penunggang kuda tersebut, adalah seorang remaja pria keturunan bangsa half elf. Rambut panjangnya berwarna coklat keemasan dengan dua kepangan kecil rapi yang melingkar dan mengikat rambut panjang di belakang kepalanya. Selingkar circlet perak berhiaskan sebuah batu rubi terletak di atas keningnya. Bentuk wajahnya sedikit tirus dengan garis rahang yang tajam serta sepasang mata besar dan daun telinga lancip sebagaimana bangsa elf pada umumnya. Dengan wajah seperti anak remaja berusia delapan belasan dan jaket seragam berburu warna hijau berornamen gari...

The Huntress - Chapter 1: Prologue

Chapter 1 : Prologue Sofie mengendap-endap dengan sangat hati-hati, matanya dengan konsentrasi penuh mengawasi setiap ranting dan semak yang ia lalui, serta setiap langkah yang ia ambil. Pikirannya terus mengingat setiap pesan dari pelatihnya beberapa bulan yang lalu. “Hati-hati dengan setiap ranting atau daun kering di tanah,” kata Jeff , dalam sesi latihan tersebut. “Kau tidak akan pernah menyangka betapa ributnya suara tiap daun kering yang terinjak saat mengintai mangsamu”. Atau terkadang Jeff akan berkata, “Selalu perhatikan arah angin! Jangan biarkan semua usahamu sia-sia hanya karena buruanmu mencium bau tengikmu”. Walaupun mengesalkan, karena Sofie yakin ia tidak berbau, atau paling tidak badannya tidak berbau setengik perkiraan Jeff, Sofie mengerti maksudnya. Kebanyakan hewan liar sangat sensitif, terutama pada indra penciuman mereka. Secara refleks Sofie mengendus lengan kirinya. Beberapa hari ini ia memang agak sibuk dengan berbagai pekerjaan rumahnya, dan ia...